Rabu, 19 Juni 2013

puisi

Sajak Hati
Embun pagi,
Seiring dengan tetes kesejukannya
Aku tuliskan sajak di awal musim
Sajak sejuta pengharapan dalam diam

Ku bersandar pada nyanyian indah
Nyanyian syahdu di musim panas
Yang menyuguhkan harapan pada tiap bait
Terhanyut dalam iringan melodi

Ketika mentari membiasi perona cinta
Menyibak dunia dengan keagungannya
Saat itu kutitip rasaku pada sang mentari
Untukku berbagi dunia bersama imajinasiku
Yang kan membawakan kisah tentang perjalanan hati

Hai jiwa,
Sinarnya yang tampak kan menghampirimu
Menyinarimu ketika kau terjaga
Menuntunmu kearah kau tertuju

Mengiringi kisah hingga musim berlalu



Lara Hati
Bersandar di tepi malam
Ketika selimut membuai hati tiap insan
Kali ini tak ada lagi rembulan
Tak satupun cahaya yang merangkul hati

Tinggalah duka dengan luka menganga
Terasa tekad ini perlahan terkikis oleh harapan
Ku tuntun jiwaku ke kota mati
Ketika senja menutupi raut muka

Raga yang kian terasa maya
Seakan perlahan merasuk dan membatu
Meringkih tak terjamah oleh senyuman
Ku labuhkan hati di samudera sunyi
Hingga bulan merah jambu
Menuntunku kembali ke tempat ini



                 Merasuk Membatu

Pikirkanlah
Nafas-nafas yang tiada ujung pangkal yang maya,

Mengapa tumbuhkan harapan yang semu
Mengapa kau jadikan tumpuan
Rindu itu bertaut, bukan dengan bayangan
Pikirkanlah
Kepada siapa berlabuhnya sebuah hati
Berapa lama lagi engkau akan bermimpi
Raga semakin ringkih membawa diri
Raga kian tak sabar menunggu mati
Sendiri………..

Hingga semua berlalu tak berarti apapun
Hanya dapat menatap bintang
Berharap bisa seperti mereka
Tapi………
Itu semua hanya mimpi
Karena sampai kapanpun aku akan terus sendiri
Terbelenggu dalam pedih ini
Hingga semua akan hilang
Jika aku tak bernafas lagi